Grafik yang paling sering digunakan dalam trading forex adalah bentuk candlestick, namun tahukan anda jika grafik ini ditemukan oleh Seorang Trader Jepang bernama Munehisa Homma yang sering disebut juga sebagai Father Of Price Action.

Grafik candlestick biasanya terdapat pada aplikasi trading seperti MetaTrader. Dengan aplikasi ini pengguna bisa menganalisis grafik candlestick dengan tim frame tertentu dan indikator bawaan atau modifikasi.

Candlestick yang banyak digunakan oleh para trader ini diciptakan pada abad ke-18. Teknik analisa ini diciptakan sekitar 300-400 tahun yang lalu oleh seorang pria berkebangsaan Jepang bernama Munehisa Homma.

Beliau sering dianggap sebagai bapak dari “price action trading” dan “sentiment analysis”.

Munehisa Homma

Munehisa Homma, juga dikenal sebagai Sokyu Homma atau Sokyu Honma. Nama Homma merupakan nama keluarganya. Beliau hidup di era 1724-1803 adalah pedagang beras dari Sakata, Jepang. Munehisa memperdagangkan beras di pasar beras Dojima di Osaka selama pemerintahan Shogun Tokugawa.

Beliau adalah trader Jepang yang terkenal pada jamannya bahkan hingga saat ini, orang yang menciptakan chart candlestick yang sekarang digunakan di seluruh dunia.

Beliau adalah pelopor dalam analisa teknikal jauh sebelum trader dari benua Eropa dan Amerika menggunakannya.

Munehisa Homma trading pada komoditi beras, salah satu komoditi andalan di Jepang saat itu.

Kabarnya hasil profit dari trading yang telah dibukukan Homma setara dengan US$ 10 milyard nilai sekarang hasil dari 100 trading yang menguntungkan secara berturut-turut.

Sampai sekitar tahun 1710, Jepang hanya memperdagangkan beras fisik tapi kemudian pasar berjangka muncul. Pada pasar berjangka ini digunakan kupon, untuk membeli beras pada waktu mendatang. Sejak bergulir sistem pasar berjangka inilah, karir Munehisa berkembang. Karena kemampuan analisa dan prediksinya, Homma diangkat menjadi penasehat keuangan pemerintah Jepang dan memperoleh gelar kehormatan samurai.

Sistem Trading Price Action

Munehisa homma - father of price action

Beliau mencatat pergerakan harga di pasar beras di atas kertas yang terbuat dari tanaman padi. Dia dengan susah payah mencatat pola harga beras di atas kertas setiap hari, mencatat setiap harga pembukaan, tertinggi, terendah dan penutupan setiap hari.

Munehisa mulai melihat pola harga yang berulang digambarnya dan mulai memberi mereka nama. Yang mungkin sekarang akrab dengan penamaan pola Candlestick seperti Doji, Marubozu dan lain sebagainya.

pola-pola ini digunakan untuk memprediksi harga beras di masa depan. Penemuan pola pergerakan harga ini memberi Munehisa keuntungan besar dibandingkan trader lain pada zamannya. Dikombinasikan dengan semangat dan keterampilan, keuntungan yang didapat menjadikannya salah satu trader paling sukses yang pernah ada.

Dalam buku berjudul “The Fountain of Gold – The Three Monkey Record of Money” pada tahun 1755. Beliau mengatakan bahwa aspek psikologis pasar sangat penting untuk keberhasilan trading dan emosi trader memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga beras. Dia mencatat bahwa psikologi pasar ini dapat digunakan untuk memposisikan diri terhadap pasar.

Dengan kata lain, Muhenisa adalah trader pertama yang menyadari bahwa dengan melacak pergerakan harga di pasar, ia bisa “melihat” perilaku psikologis pelaku pasar lainnya, dan memanfaatkannya.

Pola candlestick yang dijelaskan dalam bukunya kemudian dikenal sebagai “Sakata Rules”. Aturan ini menjadi dasar candlestick modern. Beliau juga menjelaskan tentang rotasi pasar bullish, dan bearish). Serta menggunakan cuaca sebagai analisa fundamental dan volume perdagangan dalam menentukan posisi.

Beliau tergolong sebagai contrarian trader. Mengambil keuntungan dari kondisi psikologis pelaku pasar lain, mengambil posisi melawan pasar ketika semua pelaku pasar sedang bearish, karena ada alasan harga untuk naik. Demikian juga sebaliknya.

Trading Menggunakan Sistem Sederhana

Sebagai salah satu trader sukses, Homma Munehisa membuktikan bahwa beliau bisa menguasai market dan menjadi raja perdagangan beras dengan metode yang begitu sederhana.

Hanya dengan mengamati prilaku pasar menggunakan data – data grafik yang merefleksikan kondisi volume transaksi pasar.

Sukses dengan data grafik mengenai aktivitas pasar yang disimpulkannya, Beliau menunjukan bahwa price action atau pergerakan harga mampu merefleksikan segala sesuatu tentang keadaan market.

Beliau trading bisa dikatakan dengan menggunakan price action murni karena hanya mengandalkan pergerakan harga dalam bentuk candlestick dan volume perdagangan.

Apa yang beliau temukan yang telah berusia ratusan tahun ini sangat berguna untuk menganalisa pergerakan harga pasar dan menentukan kemana arah pergerakan pasar.

Dan mungkin ini salah satu sistem perdagangan yang tidak termakan oleh jaman.

Sudah ratusan tahun dan masih digunakan hingga sekarang membuktikan bahwa sistem beliau tersebut mampu bertahan digunakan oleh trader didalam market yang sangat dinamis.

Yang membuat bingung trader untuk sekarang ini adalah banyaknya indikator yang di tawarkan sebagai pilihan dalam trading.

Sehingga trader sibuk untuk mempelajari satu per satu indikator yang banyak tersebut untuk menemukan satu yang cocok.

Begitu hampir menemukan indi yang cocok, modal sudah terkeruk habis dan mental sudah melempem akibat dihantam oleh MC trus, hingga memutuskan untuk berhenti trading.

Sedikit cerita tentang profil seorang Munehisa Homma – Father Of Price Action, semoga bisa memberikan inspirasi dan semangat.

Munehisa Homma : Father of Price Action
Tag pada:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: